Cinta itu buta….
Itulah gambaran yang diberikan selama ini,
di sinetron, di film, di kehidupan sehari-hari, dimana-mana…
cinta akan membutakan semua orang, ingat, SEMUA ORANG
tak terkecuali…diriku
tapi mungkin inilah cerita cinta paling aneh,
cerita cinta yang takkan pernah kau tangisi, cerita cinta yang takkan pernah ada tiket yang dijual untuk menontonnya, karena ini hanyalah kisah cinta seorang manusia pada sesuatu barang yang harganya melebihi apapun yang dimilikinya di dunia ini…
pertama-tama aku mau minta maaf sama Allah, “ya Allah, aku tahu aku telah berlaku syirik dan tidak dapat menerima apa yang telah Engkau takdirkan kepadaku, tapi inilah kenyataan perasaan yang aku rasakan sampai sekarang, saat aku menulis blog ini.”
suatu sore, aku mendapat ide untuk membakar kertas-kertas bekas soal-soal ujian akhir semester kemarin yang takkan mungkin kupakai kembali, sembari mendengarkan lagu-lagu yang ada di hapeku aku mulai mengemaskan laci lemariku. selembar demi selembar kupisahkan antara kertas yang mungkin masih memiliki nilai di masa depan dan kertas yang mungkin tak ada gunanya lagi disimpan. azan Maghrib berkumandang, aku hampir selesai dengan apa yang kulakukan, untuk alasan tersebut aku menunda kewajibanku menghadap sang Pencipta, tapi tak lupa kumatikan mp3 yang juga sedang “berkumandang” di hapeku, setelah itu tanpa sadar kuletakkan hapeku di antara kertas-kertas yang akan ku bakar…akhirnya aku sudah selesai dengan semuanya, tibalah saatnya aku memusnahkan semua sampah yang telah aku kemaskan dari lemariku. bak pembakaran tepat berada di belakang rumahku yang sempit, aku hanya perlu melemparkan kertas-kertas itu dan mencari sumber api untuk membakarnya. selesai sudah, api telah dengan cepatnya melahap tumpukan kertas di perapian. aku bergegas mandi untuk mengejar keterlambatanku untuk sholat Maghrib…tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku, dimana hape Nokia 5200 berwarna merah yang tadinya aku letakkan di kolong tempat tidur, batinku. tapi ini bukan saat yang tepat untuk mencari karena aku belum juga menunaikan sholat-ku, namun di dalam keadaan yang seharusnya sesunyi sholat sekalipun aku terus bertanya kepada diriku sendiri “dimana dia?”, sholatku tak tenang, dalam hati aku terus berdoa “ya, Allah, tolong jangan engkau jadikan hari ini hari dimana aku kehilangan salah satu rezeki terindah yang pernah Engkau berikan, plissss”. kemudian pikiranku seakan bergerak dengan sendirinya, ku ambil 1200-ku untuk memakai senternya dan ku ambil sepotong kayu yang terletak tak jauh dari bak pembakaran, tak pernah kuharapkan apa yang aku cari akan aku temukan di tempat itu, tapi tanganku terus mengais-ngais abu yang berterbangan menyebabkan kambuh batukku. dan akhirnya kutemukan, sebuah lempengan sebesar hape yang mungkin saat ini sedang ada di dalam sakumu (saat kau membaca blog ini) dengan keadaan sudah tujuh puluh persen lenyap, yang tersisa hanyalah sedikit kenangan yang dapat aku ingat. aku tidak langsung tertunduk lesu, yang kurasakan saat itu sebenarnya kelegaan bahwa walau dalam keadaan hancur sekalipun, aku berhasil menemukan benda yang selama beberapa menit ini aku cari.
sekarang sudah 3 hari semenjak kepergian hapeku yang malang, yang telah kubakar dengan tanganku sendiri, walaupun tanpa sengaja tentunya, tapi aku masih merasa sangat kehilangan, sebenarnya semakin hari rasa kehilangan itu semakin besar, lebih besar dari saat aku menemukan hape itu di tumpukan abu. ya Allah, ampunilah kesyirikanku ini, tapi inilah yang benar-benar aku pikirkan. bukan bermaksud untuk berlebihan tapi bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan seseorang yang dicintai, itulah yang sekarang rasanya aku rasakan. di saat aku baru mulai mensyukuri hape 5200 ku yang berwarna merah itu karena jasa-jasanya dalam membantuku mendengarkan lagu-lagu yang jarang ditemukan di hape lain, menjual pulsa, mengirim sms murah dan mengakses internet walaupun aku sedang berada di kampung (Sungai Duri), hape itu lenyap dari bumi bersama semua kenangan yang ada, dan aku sampai sekarang belum tau apa yang harus kulakukan untuk melupakan itu semua…
sekali lagi, maafkan aku ya Allah, apakah Engkau sekarang sedang benar-benar mengujiku???
atau ini adalah balasan karena akhir-akhir ini aku juga tengah memikirkan seseorang yang tak seharusnya ku pikirkan setiap detik nafasku, setiap jejak kakiku di kampus dan setiap lamunanku,, aku benar-benar berserah akan apa yang akan terjadi di depan….
mungkin ini adalah masa-masa dimana aku sulit untuk tersenyum, sulit untuk melangkahkan kaki, sulit untuk makan, tapi apakah hanya karena sebuah hape aku harus menjadi segila ini, sudah menjadi sebegitu syiriknyakah aku sampai-sampai aku tak dapat memikirkan akan jadi apa diriku esok???
maafkan…